sistem pengendalian manajemen

Interaksi Budaya Organisasi dengan Sistem Pengendalian Manajemen Terhadap Kinerja Unit Bisnis Industri

Manufaktur dan Jasa

Proposal diajukan untuk melengkapi prasyarat Skripsi

Oleh

FERIYANTO

NPM : 41183402090012

 

 

 

 

 

 

 

Program S-1

Jurusan Manajemen

 

UNIVERSITAS ISLAM 45”

FAKULTAS EKONOMI

BEKASI

 2012

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM “45” BEKASI

PROPOSAL PENELITIAN SKRIPSI

  1.  JUDUL

Interaksi Budaya Organisasi Dengan System Pengendalian Manajemen Terhadap Kinerja Unit Bisnis Industry Manufaktur dan Jasa

 

  1.  DIAJUKAN OLEH

Nama               : FERIYANTO

NPM               : 41183402090012

  1.  LATAR BELAKANG

 

Pengendalian  manajemen  telah  menjadi  salah satu  area  penting  dalam  penelitian  perilaku  orga-nisasi, sejalan dengan pertumbuhan tekanan ekonomi, iklim  industri  yang  tidak menentu,  krisis  ekonomi, dan  keadaan  lingkungan  eksternal  lainnya  seperti konsumen,  tingkat  persaingan,  pasar,  pemasok, distributor,  sikap  masyarakat  dan  pemerintah.  Studi-studi  yang  telah  ada  (Anthony,  1966;  Miller  & Friesen,  1982;  Govindarajan,  1988;  Simon,  1990; Fisher,  1998;  Syafruddin,  2001;  Tugiman,  2002; Wasito  dan  Ghozali, 2002)  menemukan  bahwa efektivitas pengendalian manajemen yang digunakan dalam  organisasi  berpengaruh  secara  signifikan terhadap peningkatan kinerja perusahaan.  Organisasi  merupakan  suatu  unit  sosial  yang dibentuk  untuk  mencapai  tujuan  tertentu.  Sistem pengendalian  diperlukan  oleh  manajemen  untuk membantu memperlancar pencapaian tujuan organi- sasi  tersebut.  Seperti  diungkapkan  Anthony &Govindarajan (1995), sistem pengendalian organisasi yang juga biasa disebut sebagai sistem pengendalian administrative atau  birokratis,  didesain  untuk  meng-arahkan  atau  mengatur  aktivitas  anggota  organisasi agar  sesuai  dengan  yang  dikehendaki  oleh pimpinan organisasi.  Akan  tetapi  keefektifan  suatu  sistem pengendalian  ditentukan  antara  lain  oleh  seberapa jauh  sistem  tersebut  sesuai  dengan  karakteristik organisasi.  Pendekatan  kontinjensi  ini  mengatakan bahwa  sistem  pengendalian  akan  lebih  bisa  menun-jang  pencapaian  tujuan  organisasi  apabila  desainnya sesuai  dengan  kondisi  lingkungan  organisasi (Hopwood  1976;  Pondeville,  2000).  Sebaliknya sistem  pengendalian  yang  tidak  sesuai  dengan karakteristik  organisasi  bisa  menimbulkan dysfunc-tional behavior bagi anggota organisasi. Sebagaimana  Hofstede,  Neuijen  &  Sanders (1990) menemukan bahwa sistem pengendalian akan berbeda untuk organisasi yang berbeda terutama bila ditinjau  dari  kultur  organisasional  (budaya  per-usahaan) atau lebih tepatnya ia  menunjukkan bahwa perbedaan  kultur  organisasional  dipengaruhi  oleh faktor-faktor  organisasional,  antara  lain:  size,  tipe kepemilikan (swasta-pemerintah), struktur organisasi-onal,  sistem  pengendalian  dan  profil  karyawan. Budaya  perusahaan  yang  dominan  mempunyai pengaruh  kuat  terhadap  anggota  organisasi,  dengan demikian  berarti  budaya  akan  mendukung  keber-hasilan manajemen dalam mengimplementasi strategi perusahaan  karena  budaya  perusahaan  mengarahkan perilaku  anggota  organisasi  dalam  mencapai  sasaran perusahaan dengan cara meningkatkan koordinasi dan pengendalian  dalam  perusahaan  (Hofstede et  al., 1990; Indriantoro, 2000).

Harrison dan Mc Kinnon (1999) menelaah kembali riset-riset lintas budaya akan sistem pengendalian manajemen  sejak  1980  melewati  15  tahun  terakhir, mereka  menemukan  bahwa  riset-riset  lintas  budaya ini tidak menggunakan dimensi budaya menurut hasil kerja Hofstede (1980) dalam Harrison & Mc Kinnon (1999)  secara  lengkap  namun  masih  memandang hanya pada satu atau dua dimensi saja, demikian pula melihat sistem pengendalian manajemen hanya pada satu  atau  dua  sub  sistem  atau  bagian  dari  sistem pengendalian  manajemen.  Mereka  menganggap bahwa  riset  budaya  dalam  sistem  pengendalian manajemen masih belumlah matang sehingga banyak peluang  yang  bisa  dilakukan  untuk  riset  mendatang dengan  sebaiknya  lebih  mencoba  menggunakan metode  dari  ilmu-ilmu  sosial  lainnya  seperti antropologi, sosiologi dan literatur-literatur sejarah.

Minat  peneliti  dan  industri  semakin  meningkat terhadap  peranan  budaya  organisasi  dalam  me-ningkatkan  kinerja  organisasi,  namun  belum  ada kesepakatan yang jelas tentang arti budaya organisasi. Nilai  dan  kepercayaan  dianggap  sebagai  elemen utama dari pengertian konsep  budaya organisasi oleh para  peneliti  (O’Reilly &  Chatman,  1996;  Schein, 1985  dalam  Tepeci,  2001).  Banyak  peneliti  lebih memilih definisi ini karena nilai yang dapat diterima bersama  oleh  anggota  organisasi  relatif  stabil  dan mampu bertahan  dalam  interaksi  sesama  anggota organisasi dengan struktur organisasi dalam memproduksi  pola  perilaku  anggota  organisasi  (Chatman, 1991 dalam Tepeci, 2001).

Hal tersebut di atas yang memotivasi penelitian ini  dilakukan  dengan  memadukan  secara  bersama-sama  atribut  (alat-alat  pengendalian)  dengan  meka-nisme  (cara)  pengendalian  yang  dilakukan  berupa evaluasi  berdasarkan  anggaran  dan  sistem  umpan balik    sebagai  sistem  pengendalian  manajemen  dan interaksinya  dengan  budaya  organisasi  terhadap kinerja  unit  bisnis.

  1. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

  1. penelitian  ini  dilakukan  untuk  melihat dampak interaksi budaya dengan sistem pengendalian manajemen terhadap kinerja unit bisnis di organisasi yang  berbeda.
  2. apakah  ada pengaruh  antara  interaksi  budaya  organisasi  dengan sistem pengendalian manajemen terhadap kinerja unit bisnis perusahaan jasa dan manufaktur?

Manfaat dari penelitian ini adalah :

  1. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan input bagi perusahaan mengenai interaksi budaya organisasi dengan system pengendalian manajemen untuk meningkatkan kinerja unit bisnis industry manufaktur atau jasa.
  1. Mengetahui  dampak  interaksi  budaya dengan  sistem  pengendalian  manajemen  terhadap kinerja unit bisnis di kedua industri ini.
  2. Hasil penelitian ini diharapkan mampu membantu memberikan informasi kepada manajemen perusahaan mengenai peningkatan atau perbaikan dalam kinerja bisnis industri sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan oleh perusahaan tersebut.

 

  1. RUANG LINGKUP DAN PEMBATASAN MASALAH

Dalam  penelitian  ini  meng-gunakan dimensi Hofstede et al. (1990) yaitu  budaya organisasi  dipandang  sebagai  nilai  dan  kepercayaan yang  diterima  bersama-sama  oleh  setiap  anggota organisasi  sehingga  perilaku,  kebiasaan  dan  situasi  aktivitas  kerja  setiap  anggota  organisasi  cenderung mencerminkan orientasi budaya organisasinya. Pene-litian  ini  menggunakan  instrument  kuantitatif  berupa skala likert 7 poin guna menjelaskan budaya organi-sasi  di  masing-masing  unit  bisnis  (pusat  laba) sebagaimana  juga  Smith  (2002)  dalam  disertasi penelitiannya  memberikan  alternatif  perbandingan cara  pengukuran  budaya  organisasi  dengan  meng-gunakan format skala likert. Format ini paling populer dalam  skala  pengukuran  instrumen  budaya.  Responden  diminta  menilai  budaya  organisasi  dengan memilih antara sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju hingga sangat setuju.

Dalam  penelitian  Hofstede et  al.  (1990)  menemukan  6  dimensi  budaya  organisasi  yang  lebih mengacu pada aktivitas manajemen yang mencerminkan nilai-nilai karyawan, yaitu sebagai berikut:

  1. Orientasi  hasil  atau  orientasi  proses.  Orientasi hasil  ditandai  oleh  upaya  maksimal  dalam men-capai  tujuan  dan  keberanian  menghadapi tantangan-tantangan  dan  mengambil  keputusan; sedangkan  orientasi  proses  ditandai  oleh  peng-hindaran  terhadap  resiko  dan  penggunaan  upaya yang minimal dalam pencapaian tujuan.
  2. Orientasi  orang  (employee)  atau  orientasi  pe-kerjaan. Orientasi  orang  menekankan  pada  per-masalahan  pribadi,  keputusan  penting  dilakukan oleh kelompok dan organisasi menekankan perlu-nya  perhatian  pada  kesejahteraan  karyawan  dan keluarganya;  sedangkan  orientasi  pekerjaan  lebih menekankan  pada  penyelesaian  suatu  pekerjaan dan keputusan penting dilakukan oleh karyawan.
  3. Parochial atau professional. Parochial menekan-kan  pada  perencanaan  jangka  pendek,  peng-indahan pada perilaku karyawan di rumah dan di kantor,  sistem  perekrutan  yang  mengindahkan pada  kehidupan  dan  kondisi  keluarga  calon; sedangkan  profesional  menitikberatkan  pada  pe-rencanaan  masa  depan,  dan  tidak  mengurusi kehidupan  pribadi  karyawan  dan  memandang sangat penting pada kompetensi dalam perekrutan.
  4. Sistem  tertutup  atau  sistem  terbuka,  Pada sistem tertutup karyawan baru memerlukan waktu relatif  lama  untuk  menyesuaikan  diri;  sedangkan pada  sistem  terbuka  mengacu  pada  keterbukaan dalam komunikasi terhadap pihak luar.
  5. Kontrol  longgar  atau  kontrol  ketat,  pada  pe-ngendalian longgar efisiensi dan ketepatan waktu relatif  lebih  longgar,  sedangkan  pengendalian ketat lebih menekankan pada ketepatan waktu dan efisiensi.
  6. Normative atau pragmatis. Normatif  menekan-kan  pada  prosedur  kendati  harus dibayar  dengan mahal;  sedangkan  pragmatis  lebih  menekankan   pada  hasil  daripada  prosedur  dan  pemenuhan kebutuhan pelanggan.

Sistem  Pengendalian  Manajemen  dalam  pene-itian  ini  mengadaptasi  penelitian  Miller &  Friesen (1982) mengenai

  1. alat-alat pengendalian, Yasukata & Kobayashi (2001)
  2. Sistem umpan balik bagaimana  menggunakan  ukuran  kinerja  aktual sebagai  umpan  balik?  serta  adaptasi  penelitian Govindarajan  (1988)
  3.  Mekanisme  sistem evaluasi  anggaran.

Akhirnya dapatlah dirumuskan pembatasan permasalahan penelitian sebagai berikut :

  1. Permasalahan yang akan diteliti berfokus pada system pengendalian manajemen (Miller & Friesen, 1982) dan dimensi budaya perusahaan (Hofdtede et al, 1990)
  2. Popu-lasi dalam  penelitian ini adalah para  manajer tingkat menengah  atau  manajerial  yang  membawahi  divisi/ departemen  unit  bisnis  atau strategic business unit (SBU) di lingkungan perusahaan-perusahaan di Indonesia,  dengan  pertimbangan  bahwa  mereka:  (merupakan  pelaksana  keputusan  manajemen  puncak yang  mampu  berinteraksi  dengan  karyawan  dan manajemen  puncak,  biasanya  mereka  terlibat langsung  dengan  kebijakan  yang  dilaksanakan  oleh manajemen  puncak.
  3. Dalam  penelitian  ini  peneliti menetapkan  rerangka  sampel  adalah  manajer  Unit Bisnis  yang  ada  di  perusahaan-perusahaan  di  Indonesia  yang  dipilih  secara  purposive  yaitu  yang mempunyai  suatu  unit  bisnis  atau strategic  business unit  (SBU)  terutama  yang  terdaftar  di  Bursa  Efek Jakarta (BEJ)  yang diseleksi dari Indonesian Capital Market  Directory  2004  dan  juga  perusahaan-per-usahaan  yang  tidak  terdaftar  namun    mempunyai SBU lebih dari satu.

 

  1. KERANGKA PEMIKIRAN

Penelitian ini  dilakukan  dengan  memadukan  secara  bersama-sama  atribut  (alat-alat  pengendalian)  dengan  meka-nisme  (cara)  pengendalian  yang  dilakukan  berupa evaluasi  berdasarkan  anggaran  dan  sistem  umpan balik    sebagai  sistem  pengendalian  manajemen  dan interaksinya  dengan  budaya  organisasi  terhadap kinerja  unit  bisnis.  Penelitian  ini  dilakukan  di  orga- nisasi  jasa  dan  manufaktur  dengan  alasan  kedua organisasi  ini  cukup  berbeda  dari  sisi  karakteristik budaya dan jenis industri yang dihasilkan.

 

Paradigma penelitian :

 

X1

X2

Y

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

Y         = kinerja unit bisnis industry manufaktur dan jasa

X1       = system pengendalian manajemen

X2       = interaksi budaya organisasi

  1. SUMBER DATA

Dalam membahas, meneliti dan merumuskan suatu masalah dibutuhkan data yang akurat dan relevan dengan masalah yang dibahas. Dari data-data yang ada tersebut kemudian dapat dianalisa, sehingga dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas dan dapat membantu untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yang digunakan adalah :

  1. Survey

Yaitu mengukur gejala-gejala yang ada tanpa menyelediki kenapa gejala tersebut ada sehingga tidak perlu memperhitungkan hubungan atar variabel karena hanya mengunakan data yang ada untuk pemecahan masalah dari pada menguji hiptesis.

  1. Observasi

Merupakan suatu cara memperoleh informasi melalui pengamatan secara langsung oleh peneliti terhadap obyek penelitian.

  1. METODE PENELITIAN
    1. Lokasi dan sampel penelitian

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan-perusahaan manufaktur dan jasa diindonesia. Dalam penelitian ini sample diperoleh dari para manajer tingkat menengah atau manajerial yang membawahi devisi/departemen unit bisnis atau strategic bussines unit (SBU) dilingkungan perusahaan diindonesia  dan data yang diteliti berupa data primer. Data primer diperoleh dari survey ke manajer suatu uinit bisnis, pusat laba, atau divisional dalam perusahaan, baik manufaktur maupun jasa yang terdaftar di bursa efek Jakarta dan jugamelalui  observasi.

  1. Pengolahan data

Teknik analisa data yang peneliti lakukan adalah menggunakan analysis  bivariate (interaction  approach dengan  model  regresi)  untuk  menguji  hipotesis penelitian.  Model  empiris  pengujian  hipotesis  ini adalah dependen variabel yang merupakan fungsi dari interaksi  dua  variabel  independen.  Pendekatan  ini diadopsi dari  Riyanto (2001) yaitu:

Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X1.X2+  e   (1)

di mana :

Y                                 : kinerja unit bisnis, diukur berdasarkan penjumlahan skor  setiap butir.

α , β1,  β2,  β3             : unstandarized koefisien regresi

X1 dan X2                  : variabel atribut dan mekanisme sistem pengendalian  manajemen  (alat  pengendalian,  evaluasi  dan  sistem umpan balik) dan variabel budaya

X1. X2                                    : interaksi X1 dan X2

Persamaan  dalam  regresi  berganda  ini  merupa-kan  cara  yang  dapat  digunakan  untuk  menguji interaksi (Govindarajan, 1988; Riyanto, 2001). Dalam penelitian  ini, pendekatan  interaksi  bertujuan  untuk menerangkan  variasi  kinerja  unit  bisnis  dari  dua interaksi variabel independen yaitu sistem pengendali-an  manajemen  dengan  variabel  kontekstualnya.   Penerapan  secara  empiris  Govindarajan  (1986) menunjukkan  efek  utama  dari  masing-masing  varia-bel  independen  terhadap  variabel  dependen  tidak dapat  diinterpretasikan.  Fokusnya  adalah  pada  signi-fikansi  dan  sifat  pengaruh  interaksi  dua  variabel independen  terhadap  variabel  dependen  yang  ada dalam persamaan 3.1. Jika β3 signifikan  dan positif (β3> 0) menunjukkan bahwa hipotesis didukung atau berarti  interaksi  sistem  pengendalian  manajemen dengan  budaya  perusahaan  berpengaruh positif  terhadap kinerja unit bisnis.

  1. SISTEMATIKA PELAPORAN

Untuk mempermudah pembahasan skripsi ini secara keseluruhan. Penulisan dilakukan secara sistematis sehingga dapat diperoleh gambaran secara garis besar. Sistematika pelaporan disusun sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

1.2              Perumusan Masalah

1.3              Pembahasan Masalah

1.4              Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.5              Sistematika Pembahasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Pengertian interaksi budaya organisasi

2.2       pengertian system pengendalian manajemen industri

2.3       Prinsip Dasar kinerja unit bisnis industry manufaktur dan jasa

2.4       Faktor – faktor yang Mempengaruhi kinerja unit bisnis industri

2.5       Jenis – Jenis budaya organisasi dan SPM dalam industry manufaktur dan jasa

2.6       Kebaikan Dan Keburukan kinerja unit bisnis industry di indonesia

2.7       Perencanan SPM dengan budaya organisasional terhadap kinerja industri

2.9       Dimensi-dimensi interaksi budaya organisasi dengan SPM.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1       Desain Penelitian

3.2       Objek Penelitian

3.3       Periode Pengamatan

3.4       Data dan Variabel serta Analisis Data yang Digunakan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1              Deskripsi Objek Penelitian

4.1.1        Sejarah Perusahaan

4.1.2        Misi dan Tujuan Perusahaan

4.1.3        Hasil kinerja dan Sasarannya

4.1.4        Lokasi perusahaan

4.1.5        Struktur Organisasi Perusahaan

4.1.6        Konsep SPM dan budaya organisasional

4.1.7        Kinerja bisnis unit manufaktur dan jasa

4.2              Analisis Dan Pembahasan

4.2.1        Penerapan SPM dengan budaya organisasional

4.2.2        Analisa penerapan SPM dengan budaya organisasional terhadap kinerja industri

4.2.3        Penyusunan SPM alternative untuk efektifitas perusahaan

4.2.4        Perbandingan Antara SPM Yang Ada Dengan SPM Alternatif

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1              Simpulan

5.2              Saran

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s